Pengalaman Menulis Cerita Panjang

Posted: 9 November 2011 in tips trick

Novel, roman, atau apapun namanya, saya kira disebut prosa pun sahih—tetapi dalam pengertian prosa kita bisa memasukkan cerita pendek, sedangkan saya mau berbincang tentang cerita, atau mungkin lebih tepat naratif, yang panjang, cukup panjang, agak panjang, maupun panjang sekali. Bukan cerita pendek.

Secara akademis, dalam ilmu-ilmu susastra, tentu semua itu wajib ada penjelasannya: misalnya apa beda novel dan roman, yang ketika saya tengok sebentar saja ternyata jauh lebih rumit daripada sekadar penjelasan kamus[1].

Namun izinkanlah saya kini membebaskan diri dari kewajiban semacam itu, karena saya hanya akan berbagi pengalaman dalam menuliskan novel, roman, atau apapun namanya tersebut: pokoknya cerita yang lebih panjang dari cerpen—jadi ya cerita panjang.

***

Sebuah cerita menjadi panjang karena kebutuhan yang berbeda dari kebutuhan yang melahirkan cerita pendek. Di antaranya, karena yang diceritakan memang banyak, sehingga mau takmau akan menjadi panjang. Setidaknya lebih panjang daripada cerita pendek. Seperti pengalaman saya dengan cerita panjang saya yang pertama, ‘roman metropolitan’ Jazz, Parfum & Insiden (1996), yang terbentuk bukan dari kehendak dan tujuan ‘menulis roman’, melainkan –yang kemudian sering disebut sebagai—‘membocorkan’ fakta mengenai penindasan di Timor Timur, ketika media massa semasa Orde Baru takmungkin memuatnya tanpa suatu risiko tertentu.

Saya dengan berbagai cara memang telah mengungkapkan kembali fakta-fakta itu dalam bentuk cerpen, tetapi kebutuhan untuk menyampaikannya secara lebih tuntas ternyata telah membuat saya mengungkapkannya dalam bentuk cerita yang lebih panjang. Adapun cerita itu harus lebih panjang, bukan sekadar karena ketuntasan fakta itu secara kuantitatif memang ‘banyak’, tetapi juga karena dalam situasi saat itu justru ketuntasannya harus saya samarkan.

Memang paradoksal. Ketika di satu pihak saya berniat ‘membuka’, saya hanya melakukannya dengan cara ‘menutupi’. Nah, usaha menyamarkannya itulah yang membuatnya tambah panjang saja ceritanya, karena bagian-bagian ‘pembocoran’ alias bab-bab Insiden itu sendiri (Laporan Insiden 1, 2, dst…) sudah delapan bab. Untuk membuatnya tidak terlalu ‘mengundang perhatian’ (paradoks lagi!), selain menggunakan ‘bahasa dagadu’, sehingga Dili tertulis sebagai Ningi, saya juga menyelang-nyelinginya dengan bab-bab Jazz (esai-esai tentang musik jazz) yang jumlahnya sampai enam bab, maupun bab-bab Parfum (Seorang Wanita dengan Parfum …. , dst.) yang banyaknya lima bab.

Dengan demikian terbentuk ‘komposisi’ bab-bab Jazz, Parfum & Insiden, tetapi yang dalam proses penggabungannya sebagai cerita panjang Jazz, Parfum & Insiden kesatuannya (baca: kekompakan berselang-selingnya) justru saya pecahkan lagi dengan bab-bab yang tak menjadi bagian ketiganya (tentang kewartawanan, orientasi seksual, dan gerakan bawahtanah) sampai empat bab. Sudah berapa bab? Hitung saja sendiri. Itu pun masih ditambah bab-bab ‘klasik’ seperti Prolog dan Epilog. Kiranya dari segi panjang tulisan sudah ‘pantas’ disebut novel atau roman, yang saat itu secara teoretis bin akademik tidak saya ketahui apa rumusannya—tetapi jika kemudian saya sebut ‘roman metropolitan’, maka itu sekadar untuk memberi flavor atawa aroma peradaban kota, dengan segenap keterpecahannya: bahwa sang narator, tokoh ‘aku’ yang menceritakan dan karena itu menyatukan segenap bab, mengalami segalanya (jazz di telinga, kenangan di kepala, laporan jurnalistik di depan mata) dalam waktu yang sama, sekaligus dan seketika.

Dengan kata lain, meski sebagai proses naratif yang diceritakan itu sesuatu yang ‘pendek’, tapi menuliskannya kembali terpaksa cukup panjang. Saya pernah menuliskan: pencapaian estetik dilahirkan oleh pengalaman yang konkret—keindahan dicapai bukan dengan mengotak-atik bahasa, melainkan dari pergumulan yang total terhadap hidup.[2] Tampaknya pendapat saya itu masih bisa berlaku dalam kasus Jazz, Parfum & Insiden ini, bahwa ‘menulis novel’ bukanlah soalnya, melainkan bahwa kebutuhan saya dalam situasi yang melahirkannya memang—dengan kondisi saya—hanya bisa diterjemahkan dalam komposisi seperti yang telah menjadi cerita sepanjang itu. Penamaan novel atau roman hanyalah memenuhi keperluan praktis, bahwa ‘barang’ yang saya sebut cerita panjang ini tidak lazim beredar sebagai ‘makhluk’ takjelas. Namun mengapa roman, dan bukan novel? Terus terang, saya tidak punya argumen ilmiah, selain ‘intuisi’ bahwa istilah roman lebih menjanjikan isi buku seperti yang saya maksud daripada istilah novel.

Dari catatan atas cerita panjang saya yang pertama kali terbit ini, saya garis bawahi kata kunci: komposisi – untuk diperbincangkan lagi nanti.

***

Cerita panjang saya yang kedua, Kitab Omong Kosong, semula berjudul Rama-Sinta: Pertempuran Cinta, mulai dimuat Koran Tempo sejak 2 April dan baru berakhir 6 Oktober 2001, mendapatkan bentuknya karena ‘pergulatan dengan hidup’ itu juga.

Alkisah, seorang kawan yang menjadi penerbit, pada akhir tahun ’90-an mengundang saya ke Yogya untuk menonton pertunjukan wayang orang di Pura Wisata. Ia membayangkan, alangkah bagusnya jika penonton yang membeli tiket wayang orang akan mendapatkan juga teks tertulis cerita wayang tersebut, dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia, semacam buku kecil, yang ditulis dengan suatu gaya—dan karena itu harganya layak ditambahkan pada harga tiket.

Saya baru bisa memenuhi permintaan ini pada tahun 2000, mengambil cerita Ramayana, mula-mula ‘stel kendo’, karena memang maksudnya hanya membuat semacam ‘brosur’ untuk pertunjukan wayang orang. Namun kesadaran untuk ‘bergaya’ membuat saya takbisa menulis hanya sekadar sinopsis—maka Ramayana ini pun (1) saya mulai ‘dari tengah’: ketika dimulai kisah penyerbuan Alengka sudah selesai dan Rahwana sudah tertawan, sedangkan Rama justru tampil sebagai sang angkara murka, dengan ekspansinya ke seluruh India, karena bagian ini yang paling kurang dikenal; (2) saya libatkan ‘rakyat kecil’ yang dalam Ramayana hanyalah orang banyak tanpa nama.

Maka ‘brosur tujuh bab’ saya selesaikan tahun 2000, yang pada dasarnya kronologis saja, hanya cara berceritanya yang ‘bergaya’—sering bersanjak (memperhatikan efek bunyi), juga bersajak, menyelingi dengan ‘suluk’ (biasa saya lakukan 15 tahun sebelumnya dalam penulisan cerita-cerita wayang di majalah Zaman), bahkan menyertakan terjemahan Haryati Soebadio atas Jnanasiddhanta untuk memberikan ‘rasa asli’ budaya lokal, yang untuk memahami dan memolesnya sungguh merupakan tantangan tersendiri.

Cerita ini belum terbit ketika tahun 2001 seorang redaktur Koran Tempo menanyakan apakah saya punya ‘stok’ naskah untuk cerita bersambung. Saya sampaikan, hanya Rama-Sinta: Pertempuran Cinta itulah yang saya punya, dan meskipun tujuh bab tergolong pendek untuk cerita bersambung, ternyata tetap dimuat bersama terbitnya koran tersebut untuk pertama kalinya. Menjelang berakhir pada bulan Mei, saya belum berpikir untuk menyambungnya. Namun ternyata dalam benak seorang pembaca yang sampai kepada saya, dikiranya cerita ini akan bersambung panjang sekali, hanya untuk sebuah lelucon bahwa saya akan menerima banyak uang.

Tentu bukan uang inilah yang membuat saya lantas menyambungnya, melainkan karena dugaan ‘panjang sekali’ ini membuat saya berpikir, “Ya, kenapa saya tidak menyambungnya sampai ‘panjang sekali’ seperti harapan banyak orang?” Maka tujuh bab pertama itu pun saya jadikanlah sebagai Bagian Pertama; dan saya memasuki Bagian Kedua bukan sebagai sambungan, tetapi ‘pindah dimensi’, ketika kuda yang berlari sebagai pembuka dan penutup Bagian Pertama, ternyata kembali menjadi gambar rajah kuda di punggung seorang pelacur, sosok rakyat kecil yang akan saya beri peran mempertanyakan kodrat peranannya itu kepada sang pengarang Ramayana, yakni Walmiki.

Sejak Bagian Pertama, memang Walmiki sebagai pengarang Ramayana sudah ‘keluar masuk’ cerita, sesuai versi komik R. A. Kosasih yang untuk pertama kalinya saya rujuk. Sementara saya mengembangkan cerita saya sendiri, saya selang-selingkan pula alur itu dengan cerita Ramayana yang masih tersisa, kadang dengan setia tapi lebih sering mendudukkannya dengan penulisan ulang secara kritis, jelas banyak pula main-mainnya, seperti Hanoman yang memimpin Konser Empat Musim sambil terbang di atas danau, yang masih saya selang-selingkan lagi dengan cerita-cerita ‘lokal’ seperti Jataka-Mala, Siwaratrikalpa, dan Bubukshah & Gagang Aking—sesuai dengan gagasan yang muncul ketika saya membaca judul Parwasagara sebagai karya Prapanca yang tidak pernah ditemukan[3], dan ternyata artinya adalah Samudera Cerita[4].

Judul Samudera Cerita itulah yang telah menyemangati saya. Saya berpikir, jika karya itu takditemukan, biarlah saya tuliskan saja, yakni mengisi cerita ini dengan banyak-banyak cerita! J Maka di sampul belakang buku saya tuliskan: Inilah kisah Satya dan Maneka, rakyat yang menjadi korban, yang menjelajah dalam pencarian Walmiki penulis Ramayana, sembari berlayar di samudera cerita.

Pada Bagian Ketiga, keberselang-selingan ini pada alur Satya dan Maneka (selain alur Walmiki dan alur sisa cerita Ramayana) saya beri beban perbincangan filsafat yang terujukkan kepada judul Kitab Omong Kosong. Di bagian ini, yang tadinya ‘stel kendo’ tentu sudah menjadi ‘stel kenceng’, meski gaya ‘menghibur’-nya tetap berusaha saya pertahankan.

Bagaimana cerita ini berakhir? Pembaca tentu berhak mempertimbangkan keberakhirannya dalam konteks keseluruhan struktur, tetapi proses menuju akhirnya taklebih dan takkurang karena saya ketika sedang berada di Victoria, B.C., Kanada, merasa ‘terganggu’ dengan kewajiban menuliskan cerita bersambung ini dari hari ke hari, ketika harus memusatkan perhatian kepada urusan lain, di samping redaktur Koran Tempo tersebut juga menyampaikan, “Teman-teman bertanya kapan selesainya.”—maka cepat-cepat saya tamatkan saja, tentu tetap dengan tanggungjawab atas kepantasannya dalam konteks keseluruhan cerita.

Jadi Kitab Omong Kosong terbentuk oleh berbagai kebutuhan berbeda-beda yang taksepenuhnya by design atau telah direncanakan, sehingga mencapai bentuk seperti yang bisa dibaca. Bahkan cetak ulangnya terpaksa menjadi Edisi Kedua pula, karena saya menyertakan sedikit tambahan cerita yang saya lupakan pada Edisi Pertama. Demikianlah bagaimana pengalaman konkret dan pergulatan dengan hidup berperan langsung kepada suatu bentuk cerita panjang. Mengingat apa yang sudah tertulis, maka sekali lagi kita mendapati kata kunci komposisi, dalam hal ini komposisi berbagai macam alur dari dalam maupun dari luar Ramayana.

***

Perbincangan tentang cerita panjang saya ketiga, Negeri Senja, terpaksa saya lompati, karena bukunya tidak ada di depan saya, dan langsung saja menuju cerita panjang saya keempat yang kasusnya lebih menarik, yakni Biola Tak Berdawai.

Cerita ini memang merupakan proyek kerjasama ‘novelisasi’, dengan sumber skenario maupun film tersebut melalui DVD. Setelah saya baca skenario dan tonton film karya Sekar Ayu Asmara tersebut, saya perkirakan bahwa dengan segala kesetiaan saya kepada keduanya, jika hanya berpegang kepada alur, saya hanya akan mampu menulis cerita sepanjang 30 halaman saja.

Maka untuk membuatnya lebih panjang, saya gunakan lagi ‘jurus komposisi’, yakni menggunakan lebih dari satu alur untuk bercerita, seperti berikut: (1) alur sudut pandang Dewa, yang dalam film tidak pernah berbicara sama sekali, sebagai narator yang berbicara tentang pikirannya sendiri; (2) alur Mahabharata, yang diceritakan oleh narator takkelihatan, yang peluangnya memang diberikan oleh suatu adegan dalam film Biola Tak Berdawai, ketika gambar memperlihatkan komik wayang Mahabharata karya R. A. Kosasih, tetapi yang antara gambar komik dan dialog tokohnya tidak berhubungan; (3) alur Biola Tak Berdawai yang “asli” dari skenario dan film, yang menyatu dalam penceritaan dari sudut pandang Dewa. Dengan kata lain, alur yang pertama ini memang melebur dengan yang ketiga. Dengan ‘modal’ ini, saya kira cukuplah untuk menjadi sebuah cerita panjang.

Tidak ada komposisi antar alur yang istimewa di sini, karena komposisi yang dimaksud adalah permainan sudut pandang, yakni antara sudut pandang Dewa dan sudut pandang ‘dalang’ yang menceritakan kembali Mahabharata. Namun perlu diketahui betapa bukan hanya masalah panjang yang kurang itulah pembentuk komposisi tersebut, melainkan juga fakta bahwa saya menghadapi dua golongan calon pembaca, yakni yang sudah maupun yang belum menonton filmnya—dan saya tidak ingin mengorbankan salah satu. Di satu pihak ini dilematis, di lain pihak menantang kreativitas, karena ketika saya mewajibkan diri untuk setia, maka tingkat kesulitan untuk tetap kreatif menjadi lebih tinggi.

Alur cerita Mahabharata itu misalnya, di satu pihak berguna untuk ‘nebel-nebelin’ buku, tetapi penceritaannya menurut saya bukan hanya relevan, melainkan juga urgen, mengingat tiadanya jaminan bahwa baik penonton maupun calon pembacanya mengetahui dan mengerti cerita itu, padahal nama-nama seperti Drupadi, Gandari, dan Bhisma disebut dalam konteks Mahabharata—kenapa pula tidak saya sediakan teksnya, agar alurnya menjadi materi intertekstual dan saling beresonansi dengan alur di dalam kepala Dewa sang anak tunadaksa?

Begitulah, bagi yang sudah menonton filmnya (dan jika membaca bukunya juga, berarti menyukainya) saya merasa harus memberi jaminan, bahwa saya tidak akan menyimpangkan alur yang sudah terdapat sebagai naratif Biola Tak Berdawai; sedangkan bagi yang belum menonton filmnya, saya harus menjamin diri saya sendiri bahwa naratif yang akan mereka baca ini tanpa teracu kepada filmnya pun mandiri sebagai karya yang utuh, tanpa harus mengkhianati filmnya. Menulis dengan kesadaran menghadapi dua golongan pembaca sekaligus seperti itu, bagi saya terasa sebagai tingkat kesulitan tertentu—meski usaha mencari jalan keluarnya (‘pengalaman konkret dan pergumulan total’) justru memberikan bentuk cerita panjang itu sendiri.

***

Perbincangan terakhir adalah mengenai ‘novel’ Kalatidha, bukan hanya karena cerita panjang saya yang lain, Nagabumi, masih jauh dari selesai, melainkan karena permainan komposisi ternyata juga merupakan persoalan sekaligus cara mengatasinya.

Siapapun yang sudah pernah memegang bukunya, akan membaca tulisan: berdasarkan ide cerita Nugroho Suksmanto. Seberapa jauh dan seberapa dekat ‘ide cerita’-nya? Baiklah saya ceritakan saja bahwa Mas Nug, begitu saya memanggilnya, memang meminta saya menuliskan sejumlah gagasan yang—menurut pengakuannya—takbisa diceritakannya sendiri. Semula saya memang tidak tertarik, dan ketika bertemu saya sudah siap dengan sejumlah nama yang saya tahu biasa menerima tugas seperti itu. Namun setelah mendengar ceritanya secara lisan saya terpukau—artinya ‘ide cerita’ itu bagi saya memang menarik, sehingga justru meletikkan kehendak untuk menuliskannya. Meskipun begitu, memang berbagai macam naratif itu memang terpecah-pecah dan tidak saling berhubungan dalam suatu alur yang mulai dan selesai dengan utuh.

Masalahnya, untungnya, saya sudah lama tidak peduli dengan ‘mitos’ bahwa yang baik adalah yang utuh. Dalam suatu diskusi tentang Jazz, Parfum & Insiden pada tahun 1998, seorang penulis bertanya apakah pada masa depan saya akan membuat sebuah novel yang ‘biasa’ J. Mungkin maksudnya yang ‘utuh’ tersebut, yang ngibul dan meyakinkan seolah-olah seperti sungguh-sungguh terjadi. Dengan kata lain dalam genre realisme. Tentu saja saya tidak tahu, tetapi barangkali saya seharusnya menjawab, “Tidak perlu.” Bagi saya, bahkan realisme itu sendiri sebetulnya bisa hadir dengan banyak cara, dan cara-caranya tidaklah harus selalu dengan cara-cara yang ‘biasa’ dong.

Ide cerita Mas Nug memang tidak merupakan satu cerita yang utuh. Sejauh saya ingat (dan saya menyesal telah menghilangkan coretan-coretan yang saya buat sambil mendengarkannya, yang sebetulnya bisa saya tunjukkan sekarang) cerita-cerita itu adalah, secara tidak kronologis: (1) tentang sejumlah tahanan politik, yang ketika dibebaskan pada 1979 di stasiun Senen tidak ada penjemputnya, dengan kisah mereka masing-masing; (2) tentang seorang anggota Pemuda Rakyat yang ketika dikejar untuk diciduk, masuk ke sebuah kelas Sekolah Dasar; (3) tentang pembakaran sebuah rumah, dalam huru-hara 1965-1966 itu juga, yang memisahkan sepasang anak kembar perempuan, yang satu gila, yang lain mati dan rohnya gentayangan dan kelak meraga sukma kepada saudaranya itu; (4) cinta segitiga antara ‘aku’, salah satu anak kembar itu, dan Nyi Rara Kidul; (5) tentang kuburan korban tentara Jepang dan kisah ‘hantu’ yang menyertainya; (6) tentang masa kecil dan lingkungan ‘aku’ di dekat kuburan itu, tempat roh kucing yang taksengaja diracuninya ternyata menemani roh anak perempuan dari salah satu kuburan tersebut; (7) tentang seorang pembobol bank terkenal, yang bertemu salah satu anak kembar itu di rumah sakit jiwa; (8) tentang seorang Joni yang sakit jiwa dan membunuh ayahnya sendiri.

Dari catatan yang sudah hilang, ‘asli’-nya tentu tidak sejelas dan setertib ini. Masing-masing ‘ide cerita’ itu tersebar di sana-sini, dalam kelompok-kelompok yang belum tersusun rapi sebagai ‘delapan’ ide cerita—urutan dan jumlah itu tersusun berdasarkan ingatan saja demi tulisan ini, dan sudah saya sebutkan tidak dimaksud sebagai kronologi. Pada kelompok-kelompok cerita yang belum jelas apa hubungannya itu, saya menerakan angka-angka urutan bab, sekiranya saja pantas sebagai urutan cerita yang utuh. Namun agaknya sekali lagi ternyata ‘keutuhan’ bukanlah selera saya. Dari hasil riset kecil-kecilan tentang suasana tahun 1965 dan 1966, saya anggap menarik untuk memasukkan saja materi riset sebagai bagian cerita, karena menurut saya jauh lebih menarik—selain lebih ‘praktis’—daripada cerita yang dapat saya bangun dari riset itu sendiri. Lagipula info masa 1965-1966 secara langsung melalui kliping dan bahasa koran masa itu, menurut saya akan menjadi permainan menarik dalam komposisi antara fakta dan fiksi.

Dengan demikian saya memiliki sejumlah padan yang dapat dimainkan dalam komposisi: (1) fakta hasil riset – fiksi karangan sendiri; (2) cerita Mas Nug – pengalaman saya; (3) imajinasi realis – imajinasi surealis; (4) kewarasan – kegilaan; dan menjadikannya berselang-seling adalah ‘novelisasi’-nya, dengan benang merah tokoh aku untuk menyatukannya. Meskipun begitu, penyatuan dan pengutuhan yang sebenarnya saya harapkan berlangsung justru di kepala pembaca, yang akan menyimpulkannya, atau sekurang-kurangnya mendapat suatu kesan—tokoh ‘aku’ hanyalah menyatukan sudut pandang, tetapi maknanya jelas ditulis oleh pembacanya. Bagi diri saya, di sanalah antara lain ukuran keberhasilan komunikatif teks seperti ini: seberapa jauh mampu membuat pembaca membangun dan memahami sebuah dunia berdasarkan pembacaannya sendiri.

***

Sejauh ini, barangkali gambaran tentang komposisi cerita panjang yang saya buat terbentuk bagaikan sebuah mozaik, tempat setiap bidang yang masing-masingnya merupakan bagian dari suatu alur, mendapat angka urutan bab dari saya—dan jadilah! Penyederhanaan ini mungkin tidak keliru, tetapi hanya jika menyangkut sebagian kecil dari proses. Penulisan cerita panjang, secara konseptual lebih cocok dalam konteks pengalaman saya sebagai penggubahan komposisi musik.

Dapat dibayangkan terdapat sebuah jalur bagaikan partitur tempat terdapatnya banyak lajur, dan pada setiap lajur ini mengalirlah nada-nada dari setiap instrumen yang bunyinya berbeda. Telah diketahui, meskipun warna bunyi setiap instrumen musik itu berbeda, pertimbangan sang penggubah atas peleburan semua bunyi dari setiap instrumen itulah yang menjadikannya sebagai kesatuan ‘pesan bunyi’—yang artinya bisa juga dengan sengaja berpesan untuk memecahkan kesatuan tersebut.

Dalam ‘novel psikologis’[5] yang mempertimbangkan ‘kewajaran dominan’, maka setiap lajur itu akan berisi karakter-karakter, ataupun karakter, latar, dan banyak lagi aspek yang biasa terdapat dalam sebuah ‘novel’, ‘roman’, atau apapun namanya, yang dalam perjalanan di setiap lajurnya masing-masing, ketika saling terhubungkan membentuk naratif yang utuh sampai jalur berakhir. Dalam cerita panjang di luar ‘estetika keutuhan’ berlaku proses serupa, kecuali bahwa ‘keutuhan psikologis’ tidak menjadi tujuannya sama sekali—setidaknya sampai jalur berakhir, karena suatu keutuhan dalam simpulan penerimaan, betapapun menjadi pesan yang diharapkan terbentuk dalam pembacaan. Apapun bentuknya.

Namun, untuk menutup catatan ini, harus saya katakan bahwa komposisi hanyalah sebagian saja dari berbagai dimensi lapisan, yang takterbatas, dalam seni menulis novel, roman, atau apapun namanya—yang bagi saya semua itu adalah cerita panjang.

*) Catatan untuk diskusi naskah novel Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara, 14 Juli 2011, Wisma Arga Mulya, Cisarua, Bogor.

[1] Sementara lema (entri) novel dan roman dalam Panuti Sudjiman, Kamus Istilah Sastra (1990), disamakan, yakni seperti dalam lema novel: Prosa rekaan yang panjang, yang menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar secara tersusun. Istilah lain: roman. / Sedang pada lema roman, cukup ditulis: Lihat novel. Tengok h. 55, 68; sementara dalam Margaret Anne Doody, The True Story of the Novel (1998) akar novel dicari sejak 400-an tahun Sebelum Masehi, dengan perubahan ciri-ciri pokok yang terus berlangsung sampai abad ke-18.

[2] Tengok “Jakarta Jakarta & Insiden Dili” dalam Seno Gumira Ajidarma, Trilogi Insiden (2010), h. 374.

[3] Prapanca (hidup semasa Hayam Wuruk memerintah Majapahit antara 1350-1389, dan dipastikan Zoetmulder tidak lebih tua dari sang raja) menulis: “Sia-sia lama bertekun menggubah kakawin menyurat di atas daun lontar / Yang pertama ‘Tahun Saka’, yang kedua ‘Lambang, kemudian ‘Parwasagara’ / Berikut yang keempat ‘Bismacarana’, akhirnya cerita ‘Sugataparwa’ / Lambang dan Tahun Saka masih akan diteruskan, sebab memang belum siap.” Dalam Slametmuljana, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (1979), h. 321. Terjemahan yang lebih baru: “Tak berguna sejak lama sering-sering

menggubah kakawin merangkai kata-kata di atas lembaran lontar, / yang pertama Saka

Kala yang kedua Lambang setelah itu Parwwa Sagara, / yang keempat Bhisma Sarana dan yang terakhir ceritera Sugata Parwwa, Lambang dan Saka Kala dilanjutkan kembali tambahannya karena belum selesai.” Dalam Ketut Riana, Kakawin Desa Warnnana uthawi Nagara Krtagama: Masa Keemasan Majapahit (2009), h. 447. Namun perhatikan

terjemahan Zoetmulder (via Dick Hartoko): “Tanpa hasil ia menyibukkan diri, terus menerus dan tekun, dengan menggubah kakawin-kakawin yang dituliskannya sebagai sanjak-sanjak di atas papan tulis. Ia mulai dengan jenis kronogram (sasakala), kemudian lambang (sanjak liris yang pendek), lalu Parwasagara, pada tempat yang keempat Bhismasarana, dan akhirnya dengan memaparkan kisah Sang Buddha. Kemudian ia kembali kepada jenis lambang dan kronogram, karena ia ingin menambah jumlahnya dan karena tugas itu belum selesai”. Dalam P. J. Zoetmulder, Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (1974), diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia oleh Dick Hartoko (1982), h. 440. Menurut Slametmuljana, “Kakawin Parwasagara, Bhismasaranantya, dan Sugataparwawarnnana telah selesai sebelum tahun 1365. / Hingga sekarang kita hanya mengenal Nagarakretagama sebagai satu-satunya karya Prapanca. Semua karya yang tersebut di atas tidak diketahui apa isinya dan bagaimana ujudnya.”, dalam Slametmuljana (1979), h. 254.

[4] Zoetmulder, P. J., Robson., S. O., Kamus Jawa Kuna – Indonesia (1995), diterjemahkan Darusuprapta dan Sumarti Suprayitna dari Old Javanese – English Dictionary (1982), h. 785.

[5] Untuk pengertian ini, saya merujuk pernyataan Kundera: “Novel-novelku tidaklah psikologis. Lebih tepatnya: Mereka terletak di luar estetika novel yang normalnya disebut psikologis.”, yang kiranya dapat saya tafsirkan sebagai realisme konvensional. Tengok Milan Kundera, The Art of the Novel (1986), diterjemahkan ke bahasa Inggris dari bahasa Prancis oleh Linda Asher (1988), h. 23.

Seno Gumira Ajidarma

5 Langkah Sederhana Memulai Cerita

Posted: 9 November 2011 in tips trick

Untuk memulai sebuah tulisan (cerita) memang tidak segampang menyibak gorden jendela. Malah banyak yang bilang bahwa memulai sebuah tulisan itu sulitnya bukan main. Itu bisa dibuktikan jika kita menghadiri acara workshop kepenulisan. Di saat sesi tanya-jawab, pasti ada saja seseorang yang mengangkat tangan kanannya untuk kemudian bertanya, “Bagaimana sih caranya memulai sebuah tulisan?” Padahal, kalau dipikir-pikir, buku-buku tentang kepenulisan itu sudah banyak yang diterbitkan. Arswendo sudah menulis Mengarang itu Gampang, A.S Laksana juga sudah membuat buku Creative Writing, dan masih banyak lagi buku-buku yang serupa dengan itu, tapi—apa boleh buat—sepertinya permasalahan tentang mengawali sebuah tulisan itu memang tidak akan pernah hilang sampai kiamat datang (hehe. Lebay!).

Baiklah, untuk menghindari kalimat basa-basi, di bawah ini akan saya paparkan lima langkah sederhana dalam memulai sebuah tulisan (cerita). Here we go!

1. Mulailah dengan Dialog
“Hanun, pergilah ke rawa di seberang Bukik Barisan. Biasanya di sana tumbuh aneka bunga. Petiklah setangkai dua tangkai untukku. Rasanya, penat ini terlerai bila memandang bunga-bunga,” pinta Kakek. Matanya mengedip-ngedip pelan, kulit lisutnya mengernyit dan lewat sorotan matanya, Kakek tidak lagi seriang dulu. (Bunga dari Peking, cerpen Zelfeni Wimra)

2. Mulailah dengan Deskripsi Tokoh
Lelaki tua itu masih berbau rusa dan kaus oblongnya yang lusuh masih menebar bau pembakaran yang tidak sempurna. Sangit…. (Kitab Salah Paham, cerpen Puthut EA)

3. Mulailah dengan Berita di Koran atau Televisi
Jumlah anak balita kurang gizi di Indonesia sekitar 23 juta. Dampak kurang gizi adalah terhambatnya pertumbuhan otak dan fisik. Begitu melewati usia dua tahun tanpa asupan gizi seimbang, kondisinya tak dapat diperbaiki lagi. Citra CT-scan akan memperlihatkan gambar otak yang tidak padat alias otak kosong…. Bersiaplah memanen generasi yang hilang. Tidak lama, cuma dua dasawarsa lagi. (Kompas, Selasa 11 Oktober 2005)

Rombongan sirkus itu muncul ke kota kami…. (Sirkus, cerpen Agus Noor)

4. Mulailah dengan Adegan
Ia menulis puisi panjang di depan sebujur tubuh kaku istrinya. Tidak ada kata-kata; mati, kematian dan airmata di dalam puisi itu, yang adalah buah apel, meja makan, dan yang paling banyak adalah: usaha mati-matian. (Kematian Seorang Istri, cerpen Puthut EA)

Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki sebuah kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya. (Rembulan dalam Cappucino, cerpen Seno Gumira Ajidarma)

5. Mulailah dengan Seting Tempat

Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah di butir terakhir ia akan bertemu kematian…. (Cinta Tak Ada Mati, cerpen Eka Kurniawan)

Dari jauh sudah terlihat pohon itu berdiri tegak di tengah padang. Setelah berhari-hari menempuh daerah yang kering kerontang dan terpanggang matahari, pemandangan yang rimbun seperti itulah yang sekarang kubutuhkan…. (Sebatang Pohon di Tengah Padang, cerpen Seno Gumira Ajidarma)

Selesai! Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk memulai sebuah cerita. Tapi, di sini saya hanya menampilkan lima cara saja dulu. Cara yang lumayan sering digunakan dan insya Allah mudah dipelajari. Silakan teman-teman coba semuanya, satu persatu. Dengan kita menguasai beberapa cara mengawali tulisan (cerita), semoga kita semua terhindar dari pembukaan cerita yang klise dan sudah ketinggalan zaman seperti, “Pada suatu hari….”, atau “Matahari pagi bersinar indah sekali….”

Oke, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini sampai selesai. Semoga bermanfaat. Jika kalian ada masukan, tulis komentar di bawah, ya. Senang jika kita bisa berbagi.

(Noor H Dee)

Menuju Menulis Menjadi Penulis

Posted: 9 November 2011 in tips trick

I

Menulis adalah sebuah tindak kreatif. Menulis adalah sebuah refleksi pemikiran. Menulis adalah sebuah pengungkapan rasa. Menulis adalah sebuah amal nyata. Menulis adalah menulis. Sebuah kata yang terdiri dari dua morfem, me dan tulis. Dua morfem dengan kategori yang berbeda. Me adalah morfem terikat dan tulis adalah morfem bebas. Me sebagai morfem terikat adalah bermakna (implisit) aktif; tulis adalah morfem bebas yang (eksplisit) imperatif. Me tidak memiliki makna tanpa berpadu dengan kata dasar. Karena itu, me adalah sebuah eksistensi implisit, takkasat, gaib, atau ruhi. Sedangkan tulis adalah sebuah kata dasar yang sejak dikonvensikan telah memiliki arti mandiri, bahkan arti tersebut memiliki makna imperatif atau perintah. Makna yang nyata, bergerak, progresif, dan kreatif. Karena itu, kata tulis adalah merujuk pada sebuah bukti nyata.

Berdasar pada pemikiran tersebut, maka tidak akan ada sebuah tulisan tanpa adanya eksistensi dua hal: Semangat, ruh, visi, misi, atau niat yang kuat dan gerak, kreativitas, atau amal nyata. Seseorang akan dengan mudah dan antusias menulis bila kedua hal tersebut hadir dengan seimbang. Bila tidak, seseorang akan menganggap menulis sebagai pekerjaan yang amat berat. Jadi, tanamkan niat yang kuat lewat visi, misi, dan (atau) kecemburuan budaya untuk kemudian beranjak menggoyangkan pena atau menghentak tuts komputer.

II

Menulis adalah sebuah amal nyata. Menulis bukan sebuah amal tanpa produk. Karena itu, menulis adalah sebuah produktivitas. Dan Islam menganjurkan manusia untuk produktif bahkan keimanan pun tidak sempurna tanpa produk berupa amal shaleh. Kesempurnaan makna iman adalah mencakup tiga hal, yaitu tekad hati, ikrar verbal, dan pelaksanaan lewat pergerakan atau aktivitas. Sebab itu, menulis adalah sebuah tindak nyata dari sebuah gerak hati.

Budaya lisan memang masih kuat berakar pada kebudayaan kita sehingga gosip menjadi (seolah-olah) sebuah karya nyata. Karenanyalah, kecenderungan masyarakat pada budaya literat sangatlah jauh. Belum lagi ditambah serangan budaya pandang-dengar lewat televisi dan film-film. Semakin sempurnalah mitos yang berkembang, bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan sulit, bahwa menulis adalah aktivitas yang dikhususkan untuk kalangan tertentu saja, bahwa menulis adalah sebuah entitas rumit yang sulit sekali ditelusuri dan dijangkau. Dan bahwa berbicara adalah sebuah tindak penuh prestise. Padahal kita tahu al-Qur’an dan Al-Hadits menganjurkan untuk menindaklanjuti tindak bicara dengan amal nyata. Dan menulis adalah sebuah amal nyata.

Lalu apa yang harus kita lakukan? Tentu saja pertama-tama kita harus menyadari tentang urgensi menulis pada pembangunan peradaban ummat. Tentu saja kita harus melihat sejarah tentang betapa kejayaan Islam dibangun (juga) oleh budaya menulis para ulama dan masyarakatnya. Dan tentu saja kita harus meraba diri, bahwa kita harus bangkit dan menjadi istimewa sebagai subjek bukan objek. Dan menulis adalah sebuah kata kerja yang membuat seseorang yang melakukannya menjadi subjek.

Seseorang menjadi subjek dengan menulis karena dia belajar berpendapat dan mempertanggungjawabkannya. Selain itu, karena dia berusaha mengungkapkan perasaannya untuk sebuah perubahan. Dia tidak diam saja dengan ketidaksepakatan dan ketertekanan. Dia berteriak dengan menulis. Dia eksis dengan menulis. Dia ada karena dia menulis. Perlu ditekankan di sini, bahwa kita bisa membaca dan belajar pemikiran dan gagasan seseorang dari tulisan mereka. Karena menulis adalah sebuah penanda keberadaan. Jadi, menurut saya, dengan sebuah kesadaran menjadi subjek seseorang akan mudah berkeinginan untuk menulis dan dengan kesadaran beramal seseorang akan mudah untuk menggoyangkan pena dan (atau) menghentak tuts keyboaard komputer.

III

Menulis (juga) adalah sebuah hasil, sebuah out put atau keluaran. Menulis adalah tindakan yang ada karena tindakan sebelumnya. Menulis adalah representasi dari tindak membaca. Baik membaca secara tekstual maupun membaca secara kontekstual. Namun, tindak membaca tertentulah yang akan membuat seseorang mampu menulis, yaitu tindak membaca dengan penuh kesadaran. Kesadaran yang mewujud dalam bentuk pertanyaan demi pertanyaan. Semakin seseorang banyak membaca, semakin akan banyak bertanya dia. Dari pertanyaan itulah ia akan banyak menelusuri kemungkinan jawaban yang kemudian ia simpulkan dalam bentuk gagasan. Dan bila gagasan itu mendesaknya untuk dituangkan dengan segera, tulisanlah salah satu medianya.

Jadi, menulis adalah hal yang (relatif) mudah dilakukan oleh seseorang yang akrab dengan tindak membaca. Karena itu, menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukankah tak ada seorang pun yang tidak pernah membaca? Dan dari sekian bacaannya, tentu saja ada bacaan yang membuatnya bertanya dan menyimpulkan. Karena itu, seorang penulis akan lebih mudah menulis dari objek yang sehari-hari ia lihat dan baca. Seorang Ahmad Tohari, selalu menulis tentang alam pedesaan, religiusitas, dan pergulatan ideologi (terutama yang berhubungan dengan tragedi PKI) karena ia intens membaca ruang yang melingkupi kehidupannya. Seorang Kuntowijoyo, pada setiap karyanya selalu berhubungan dengan religiusitas, kejawaan, sejarah, dan demitologisasi karena yang intens ia baca adalah hal tersebut. Seorang Oka Rusmini, pada karya-karyanya selalu berhubungan dengan, Bali, budaya kasta, dan perempuan karena ia intens membaca hal tersebut. Begitu pun dengan penulis FLP, mayoritas pada setiap karyanya berhubungan dengan religiusitas, dakwah, benturan budaya, dan upaya pencerahan karena sesuatu yang para penulis FLP intens baca adalah hal tersebut.

Berdasar hal tersebut, seseorang akan mudah menulis bila: membaca dengan intens, menyadari ruang kehidupannya sebagai aset bacaan, menuliskan apa yang dekat dan akrab dengan kehidupannya. Percayalah, setelah tiga langkah tersebut dijalankan seseorang akan mudah menggoyangkan pena dan (atau) menghentak tuts komputer.

IV

Ada beberapa hal praktis yang saya lakukan agar mudah menulis. Pertama, menemukan filosofi menulis. Menulis bagi setiap orang adalah hal yang berbeda kedudukannya. Bagi saya menulis adalah sebuah alur kehidupan yang tak bisa dihindari seperti seorang anak normal tidak bisa menghindari perkembangan kehidupannya. Ia tidak bisa menghindari untuk belajar berdiri, melangkah, berlari, berbicara, dan berinteraksi. Begitu pun dengan menulis. Seseorang yang normal, bisa membaca dan mencatat, akan mampu menulis karena memang sudah waktunya, sudah fasenya. Kedua, menemukan kata-kata, frase, kalimat, atau paragraf kunci untuk mengikat ide. Untuk itu, diperlukan kekuatan memori. Pada titik ini diperlukanlah buku harian atau notes khusus. Ketiga, menemukan waktu biologis kita. Temukan, kapan kita mampu dengan optimal menulis. Tentu saja setiap orang berbeda. Pola seorang penulis tidak bisa dipaksakan bagi penulis lainnya. Karena itu, belajar menulis dari proses kreatif orang lain hanyalah semacam stimulan bagi pencarian pola kita sendiri bukan untuk ditiru mentah-mentah. Keempat, segeralah menulis, jangan banyak bicara dan berteori lagi. Menulis, menulis, dan menulis, tanpa ragu. Temukan kenikmatan dibalik kata kerja tersebut. Wallahu’alam bishawab.

{M. Irfan Hidayatullah (Ketua Umum FLP 2005-2009)}

Teknik Menulis Resensi Buku

Posted: 9 November 2011 in tips trick

~dan…kebahagiaan akan berlipat ganda
jika dibagi dengan orang lain~

(Paulo Coelho dalam novel “Di Tepi Sungai Piedra”)

Beruntung orang yang suka membaca buku. Mereka yang gemar membaca buku akan terbuka wawasannya, tidak kuper dan cupet pandangan. Mereka akan mendapatkan informasi selain yang dipikirkannya selama ini, begitu juga referensi dan pengetahuannya akan bertambah luas. Inilah sebenarnya investasi berharga sebagai modal untuk mengarungi kehidupannya. Orang yang menyukai aktivitas membaca, biasanya mereka tidak akan terjebak dalam pola berpikir sempit ketika menghadapi problem-problem penting yang terjadi di dunia. Dalam kehidupan nyata juga berpeluang besar punya potensi dan kecenderungan yang bijak dalam mensikapi kejadian-kejadian keseharian di sekitarnya.

Tapi, bagi orang yang ingin berbuat lebih dan mau berbagi ilmu kepada orang lain, membaca saja tak cukup. Mereka perlu memiliki ketrampilan lagi yaitu ketrampilan meresensi buku (berbagi bacaan). Sebelum melangkah kepada teknik ringkas meresensi buku, ada beberapa hal penting mengapa resensi perlu dibuat. Tujuannya, diantaranya sebagai berikut,

1. Membantu pembaca (publik) yang belum berkesempatan membaca buku yang dimaksud (karena buku yang diresensi biasanya buku baru) atau membantu mereka yang memang tidak punya waktu membaca buku sedikitpun. Dengan adanya resensi, pembaca bisa mengetahui gambaran dan penilaian umum terhadap buku tertentu. Setidaknya, dalam level praktis keseharian, bisa dijadikan bahan obrolan yang bermanfaat dari pada menggosip yang tidak jelas juntrungnya.

2. Mengetahui kelemahan dan kelebihan buku yang diresensi. Dengan begitu, pembaca bisa belajar bagaimana semestinya membuat buku yang baik itu. Memang, peresensi bisa saja sangat subjektif dalam menilai buku. Tapi, bagaimanapun juga tetap akan punya manfaat (terutama kalau dipublikasikan di media cetak, karena telah melewati seleksi redaktur). Lewat buku yang diresensi itulah peresensi belajar melakukan kritik dan koreksi terhadap sebuah buku. Disisi lain, seorang pembaca juga akan melakukan pembelajaran yang sama. Pembaca bisa tahu dan secara tak sadar akan menggumam pelan “Oooo buku ini begini…. begitu” setelah membaca karya resensi.

3. Mengetahui latarbelakang dan alasan buku tersebut diterbitkan. Sisi Undercovernya. Kalaupun tidak bisa mendapkan informasi yang demikian, peresensi tetap bisa mengacu pada halaman pengantar atau prolog yang terdapat dalam sebuah buku. Kalau tidak, informasi dari pemberitaan media tak jadi soal.

4. Mengetahui perbandingan buku yang telah dihasilkan penulis yang sama atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Peresensi yang punya “jam terbang” tinggi, biasanya tidak melulu mengulas isi buku apa adanya. Biasanya, mereka juga menghadirkan karya-karya sebelumnya yang telah ditulis oleh pengarang buku tersebut atau buku-buku karya penulis lain yang sejenis. Hal ini tentu akan lebih memperkaya wawasan pembaca nantinya.

5. Bagi penulis buku yang diresensi, informasi atas buku yang diulas bisa sebagai masukan berharga bagi proses kreatif kepenulisan selanjutnya. Karena tak jarang peresensi memberikan kritik yang tajam baik itu dari segi cara dan gaya kepenulisan maupun isi dan substansi bukunya. Sedangkan, bagi penerbit bisa dijadikan wahana koreksi karena biasanya peresensi juga menyoroti soal font (jenis huruf) mutu cetakan dsb.

Nah, untuk bisa meresensi buku, sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan sebagian orang. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan siapa saja yang akan membuat resensi buku asalkan mereka mau. Diantaranya;

A. Tahap Persiapan

1. Memilih jenis buku. Tentu setiap orang mempunyai hobi dan minat tertentu pada sebuah buku. Pada proses pemilihan ini akan lebih baik kalau kita fokus untuk meresensi buku-buku tertentu yang menjadi minat atau sesuai dengan latarbelakang pendidikan kita. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa seseorang tidak mungkin menguasai berbagai macam bidang sekaligus. Ini terkait dengan ” otoritas ilmiah”. Tidak berarti membatasi atau melarang-larang orang untuk meresensi buku. Tapi, hanya soal siapa berbicara apa. Seorang guru tentu lebih paham bagaimana cara mengajar siswa dibandingkan seorang tukang sayur.

2. Usahakan buku baru. Ini jika karya resensi akan dipublikasikan di media cetak. Buku-buku yang sudah lama tentu kecil kemungkinan akan termuat karena dinilai sudah basi dengan asumsi sudah banyak yang membacanya. Sehingga tidak mengundang rasa penasaran. Untuk buku-buku lama (yang diniatkan hanya sekedar untuk berbagi ilmu, bukan untuk mendapatkan honor) tetap bisa diresensi dan dipublikasikan misalnya lewat blog (jurnal personal).

3. Membuat anatomi buku. Yaitu informasi awal mengenai buku yang akan diresensi. Contoh formatnya sebagai berikut;

Judul Karya Resensi

Judul Buku :
Penulis :
Penerbit :
Harga :
Tebal :

B. Tahap Pengerjaan

1. Membaca dengan detail dan mencatat hal-hal penting. Ini yang membedakan antara pembaca biasa dan peresensi buku. Bagi pembaca biasa, membaca bisa sambil lalu dan boleh menghentikan kapan saja. Bagi seorang peresensi, mesti membaca buku sampai tuntas agar bisa mendapatkan informasi buku secara menyeluruh. Begitu juga mencatat kutipan dan pemikiran yang dirasa penting yang terdapat dalam buku tersebut.

2. Setelah membaca, mulai menuliskan karya resensi buku yang dimaksud. Dalam karya resensi tersebut, setidaknya mengandung beberapa hal;

• Informasi(anatomi) awal buku (seperti format diatas).
• Tentukan judul yang menarik dan “provokatif”.
• Membuat ulasan singkat buku. Ringkasan garis besar isi buku.
• Memberikan penilaian buku. (substansi isinya maupun cover dan cetakan fisiknya) atau membandingkan dengan buku lain. Inilah sesungguhnya fungsi utama seorang peresensi yaitu sebagai kritikus sehingga bisa membantu publik menilai sebuah buku.
• Menonjolkan sisi yang beda atas buku yang diresensi dengan buku lainnya.
• Mengulas manfaat buku tersebut bagi pembaca.
• Mengkoreksi karya resensi. Editing kelengkapan karya, EYD dan sistematika jalan pikiran resensi yang telah dihasilkan. Yang terpenting tentu bukan isi buku itu apa, tapi apa sikap dan penilaian peresensi terhadap buku tersebut.

C. Tahap Publikasi

1. Karya disesuaikan dengan ruang media yang akan kita kirimi resensi. Setiap media berbeda-beda panjang dan pendeknya. Mengikuti syarat jumlah halaman dari media yang bersangkutan adalah sebuah langkah yang aman bagi peresensi.

2. Menyertakan cover halaman depan buku.

3. Mengirimkan karya sesuai dengan jenis buku-buku yang resensinya telah diterbitkan sebelumnya. Peresensi perlu menengok dan memahami buku jenis apa yang sering dimuat pada sebuah media tertentu. Hal ini untuk menghindari penolakan karya kita oleh redaktur.

Demikian ulasan sekilas mengenai teknik sederhana meresensi buku. Pada intinya, persoalan meresensi buku adalah soal berbagi (ilmu). Setelah membaca buku, biasanya kita bahagia karena memperoleh wawasan baru. Dengan begitu urusan meresensi buku juga bisa berarti kita berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

*Yons Achmad. Humas FLP Pusat.

Tips Menulis Esai

Posted: 9 November 2011 in artikel islami, tips trick

1. Tulisan esai biasanya enak dibaca. Maka buatlah yang enak dibaca oleh diri sendiri dan yg lain.

2. Perspektif baru. Ide tulisan pastinya banyak. Kita bisa menulis tentang apa saja. Tapi, usahakan ada yg segar dan baru di situ.

3. Buka dengan enak. Bukalah tulisan dengan sesuatu yg enak. Bisa dari kutipan, cerita-cerita, atau sekadar pengalaman pribadi–tapi, namanya juga pembuka, jangan kebanyakan.

4. Diksi (pilihan kata). Tidak semua yg kita tahu harus disampaikan, jadi pilih yang penting-penting atau yg enak-enak saja di tulisan itu.

Seperti juga lazimnya proses jadi penulis, maka kita perlu mengamalkan amalan-amalan ini:

1. Banyakbanyak membaca. Baca buku yang paling bagus dulu. Atau, dari penulis paling TOP dulu. Biar kita dapat gambaran dasarnya.

2. Banyak-banyak menulis. Berlatih banyak-banyak akan membuat kita lihai. Pepatah tua bilang, “ROMA TIDAK DIBANGUN DALAM SEMALAM”.

3. Jaga semangat. Jangan jatuh mental kalau ada yang mengkritik. Anggaplah kritikan itu sebagai apresiasi positif. Artinya, ubahlah sesautu yang negatif, menjadi berlembar-lembar motivasi positif.

Yanuardi Syukur. Pengurus FLP Pusat.

Teknik Menulis Skenario

Posted: 9 November 2011 in artikel islami

Pembuatan sebuah film harus direncanakan sematang mungkin. Salah satu bagian dari produksi film yang terpenting adalah penulisan skenario. Skenario termasuk unsur yang dibutuhkan paling awal sebagai rancangan membuat film. Ketika sebuah skenario telah selesai, maka sebenarnya film telah selesai dibuat pula dalam bentuk tertulis.

Lantas bagaimana cara menulis skenario? Berikut ini akan dipaparkan teknik menulis skenario yang diambil dari beberapa sumber di internet.

IDE CERITA

Oke, mungkin yang pertama ingin diketahui oleh orang yang ingin membuat skenario untuk film adalah langkah pertama. Apa sih yang paling pertama dilakukan dalam membuat skenario?

Yap, the first step is IDE CERITA.

Ide cerita yang ada di kepala sebaiknya langsung dituangkan kedalam tulisan. Cukup ke dalam satu kalimat. Contohnya: tentang seorang pemuda yang jatuh cinta kepada wanita yang tak pernah bisa ia ajak bicara, atau tentang seorang jagoan yang diutus kebumi untuk menumpas kejahatan. Dalam bahasa Inggris, biasanya wujudnya seperti ini: the story tells us about a maid that goes to a dance party in a castle, atau, about a father that always lie to his son.

Apapun bentuknya, biasanya subyek yang ditulis di awal kalimat selalu manusia. Mungkin ada beberapa yang mau membuat subyeknya non-manusia, seperti binatang, matahari, air, waktu, atau apapun. Namun biasanya akan menemui kesulitan dalam pengembangannya karena subyek-subyek non-manusia kadang tidak bisa melakukan aksi dan jarang sekali memiliki problem yang menarik. Seandainya tetap ingin membuat subyek non-manusia, biasanya subyek tersebut tetap “dimanusiakan”, atau dipersonifikasikan, dan tetap memiliki karakter-karakter manusia.

Contoh ide cerita: sepesang kekasih yang telah menikah saat kelas dua SMA dan memiliki seorang anak.

CERITA DASAR

Ide cerita yang cuma satu kalimat harus dikembangkan kedalam cerita dasar (basic story), yang isinya tidak lebih dari satu halaman folio dengan spasi satu setengah dan font times new roman ukuran 12. Biasanya cerita dasar berkisar setengah halaman saja. Isi dari cerita dasar itu ada keterangan tempat dan waktu, keterangan tokoh-tokoh yang muncul dalam cerita, problem-problem utama, serta penyelesaian. Jangan malu-malu untuk menulis akhir dari cerita yang dibuat, jangan disimpan-simpan sendiri atau untuk membuat surprise orang. Tidak ada orang yang bisa anda kejutkan dalam proses penulisan skenario.

KARAKTER

Dalam skenario yang akan kita buat, akan muncul tokoh-tokoh. Kita harus membuat dan mengenalinya lebih dalam. Gunanya banyak. Kita akan tahu bagaimana tokoh tersebut berdialog, berpikir dan bertindak. Kita akan tahu bagaimana si tokoh akan memecahkan masalah. Juga bagaimana koflik antara satu tokoh dengan tokoh lain.
Pada tahap pencarian pemain (casting), penjelasan karakter juga sangat membantu untuk menemukan pemain yang cocok untuk memerankan tokoh yang dibuat. Selanjutnya, bagi pemain itu sendiri akan lebih mudah untuk memahami karakter tokoh yang harus dimainkannya.

Untuk mengembangkan karakter tokoh, kita bisa melakukannya dengan memberikan data mengenai : nama lengkap dan panggilan, agama, umur, hubungan keluarga dan pertemanan, kegemaran (ilmu pengetahuan, film, musik, olahraga, bacaan, makanan), ciri-ciri fisik, intelejensia, gaya busana, cara berbicara, sifat, tempat tinggal, dan lain-lain.

Contoh perincian karakter: Sinta, cewek SMA usia 18 tahun, tidak terlalu pintar. Tatap matanya genit, murah senyum, rambutnya yang ikal panjang sampai ke punggung, dan tubuhnya ramping. Seorang cewek glamour yang selalu tampil seksi. Hobi jalan-jalan dan shopping. Tinggal di sebuah komplek perumahan elit. Orang tua sangat sibuk, jarang di rumah.

LOKASI

Untuk membuat adegan, kita harus menentukan set dan lokasi (tempat adegan berlangsung) terlebih dahulu. Ini akan memudahkan kita untuk menentukan adegan. Sedang apa, posisinya dimana, dari mana, menuju kemana, melihat apa atau memandang ke arah mana.

Tempat kejadian berlangsung itu bisa berupa set yang dibangun di studio, misalnya ruang-ruang dalam rumah seperti teras, ruang tamu, ruang tengah, kamar, dapur atau kita menggunakan bagian dari bangunan rumah yang sebenarnya. Yang dimaksud set tidak selalu harus rumah, tapi juga jalan atau tempat lain.

Penjelasan set ini, selain berguna bagi kita ketika membuat skenario, juga berguna sebagai petunjuk bagi set builder untuk membangun set di studio atau bagi unit produksi untuk mencarikan bagunan yang akan dijadikan sebagai set yang sesuai dengan tuntutan skenario.

PLOT

Penyusunan plot yang merupakan alur cerita sangat diperlukan dalam menulis skenario sebagaimana dalam penulisan novel maupun cerpen. Struktur plot lazimnya terdiri dari 3 (tiga) babak yaitu set up atau awal konflik, confrontation atau komplikasi masalah, dan resolution atau penyelesaian masalah. Dengan adanya plot yang disusun terlebih dahulu akan sangat membantu penulis dalam penulisan skenario.

Bentuk plot secara sederhana adalah sebagai berikut :

Babak I : Pada liburan kenaikan kelas dua, Sinta mengadakan party di rumahnya. Pesta usai dan teman-teman pulang. Karena dalam keadaan mabuk, Sinta menerima ajakan Andre, teman sekelasnya yang masih disitu, untuk bersetubuh. Sinta hamil. Untunglah Andre mau bertanggung jawab. Kelas dua SMA mereka resmi jadi suami istri dan beranak satu.

Babak II : Mereka masih labil. Menyelesaikan masalah dengan emosi. Sinta menuduh Andre selingkuh dengan Ratna, teman satu tim Andre di eskul basket. Andre tak terima, dia juga menuduh Sinta main belakang dengan Renald, kakak kelas mereka. Pertengkaran mewarnai hari-hari.

Babak III : Suatu hari ketika mereka bertengkar hebat, anak mereka yang masih belum genap setahun menagis keras. Minta susu. Sementara susu habis. Uang mereka juga tipis. Pada akhirnya mereka berjuang bersama untuk membelikan susu anaknya. Di tengah perjuangan membelikan susu, mereka sadar bahwa bertengkar terus tak ada guna. Ada anak mereka yang harus dipikirkan. Happy ending.

OUTLINE

Outline adalah susunan urutan adegan per adegan secara lebih rinci. Jadi bisa dikatakan bahwa outline adalah penjabaran dari plot. Contoh outline adalah sebagai berikut :
1. Di Rumah Sinta :
1.1. Sinta berjoged bersama teman-temannnya, mengikuti dentuman house music,
1.2. Sinta dan Andre saling curi-curi pandang,
1.3. Karena kebanyakan minum Sinta mabuk, party hampir usai,
1.4. Teman-teman sinta pulang, Andre terlihat enggan pulang,
1.5. Andre menyusul Sinta yang menuju kamar tidur, dst

SCENE

Scene atau scene heading merupakan informasi tentang adegan. Scene heading umumnya terdiri dari nomor scene, INT/EXT, lokasi adegan, dan waktu adegan. INT singkatan dari interior digunakan apabila pengambilan gambar dilakukan di dalam ruangan. sedangkan EXT singkatan dari exterior digunakan apabila pengambilan gambar dilakukan di luar ruangan. Adapun bentuk scene heading adalah sebagai berikut :

1. INT. RUMAH SINTA – MALAM

ACTION
Action atau aksi adalah keterangan mengenai kejadian dalam setiap scene atau adegan yang merupakan penjabaran dari outline yang sudah dibuat sebelumnya. Untuk Scene 1 dapat ditulis sebagai berikut :
INT. RUMAH SINTA – MALAM
Sinta berjoged bersama teman-temannya mengikuti dentuman house music.

DIALOG & PARENTHETICAL
Dialog adalah kata atau kalimat yang harus diucapkan oleh karakter dalam adegan. Sedangkan parenthetical adalah pentunjuk aksi atau ekspresi yang harus dilakukan oleh karakter dalam mengucapkan dialog. Misalnya emosi, sedih, menangis, tersenyum, tertawa, dan sebagainya. Adapun dialog yang mengiringi perjalanan scene yang menunjukkan suara hati atau pikiran dari karakter tanpa melafalkan dialog digunakan istilah Voice Over (V.O), sedangkan dialog tanpa menampilkan karakter dalam adegan digunakan istilah Off Screen (O.S). Contoh dialog dan parenthetical adalah sebagai berikut :

1. INT. RUMAH SINTA – MALAM
Sinta dengan tank top dan rok mininya begitu enerjik berjoged bersama teman-temannya. Kedua tangannya diangkat ke atas dan berputar-putar mengikuti dentuman musik. Sementara kepalanya mengangguk-angguk.
SINTA

(V.O)

Hidup ini harus dirayakan. Harus berpesta. Aku tak pernah tahu, kenapa orang-orang masih punya alasan untuk bersedih. Bukankah hidup ini sudah susah? Kenapa pula hati selalu diliputi sedih, takut, bimbang, kecewa, ah bullshit! Bersenang-senang lah, berpesta lah!

ATURAN BAKU
Dalam menulis skenario terdapat beberapa aturan baku, di antaranya:
1. Font Courier New
2. Ukuran/size 12.
3. Spasi satu (1). Bukan satu setengah, bukan dua

Ketiga format dasar di atas ada hubungannya dengan durasi film. Secara internasional sudah diakui bahwa dengan font courier new, size 12 dan spasi 1, maka satu halaman skenario sama dengan satu menit film. 120 halaman skenario = 120 menit film, atau dua jam.

Pernyataan ini pun sebenarnya masih tergantung juga pada seberapa detil penjelasan visual di skenario tersebut, dan berapa perbandingan antara penjelasan visual/action, dengan dialognya.

ISTILAH PENTING
Ø BCU (BIG CLOSE UP): Pengambilan gambar dengan jarak yang sangat dekat. Biasanya, untuk gambar-gambar kecil agar lebih jelas dan detail, seperti anting tokoh.

Ø CU (CLOSE UP): Pengambilan gambar dengan jarak yang cukup dekat. Biasanya, untuk menegaskan detail sesuatu seperti ekspresi tokoh yang penting, seperti senyum manis atau lirikan mata. Tokoh biasanya muncul gambar wajah saja.
Ø COMMERCIAL BREAK: Jeda iklan. Penulis skenario harus memperhitungkan jeda ini, dengan memberi kejutan atau suspense agar penonton tetap menunggu adegan berikutnya.
Ø CREDIT TITLE: Penayangan nama tim kreatif dan orang yang terlibat dalam sebuah produksi
Ø CUT BACK TO: Transisi perpindahan dalam waktu yang cepat untuk kembali ke tempat sebelumnya. Jadi, ada satu kejadian di satu tempat, lalu berpindah ke tempat lain, dan kembali ke tempat semula.
Ø CUT TO: Perpindahan untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi bersamaan, tetapi di tempat yang berbeda atau kelanjutan adegan di hari yang sama.
Ø DISSOLVE TO: Perpindahan dengan gambar yang semakin lama semakin kabur sebelum berpindah ke adegan berikutnya.
Ø ESTABLISHING SHOT: Pengambilan gambar secara keseluruhan, biasa disingkat ESTABLISH saja.
Ø EXT.(EXTERIOR): Menunjukan tempat pengambilan gambar diluar ruangan.
Ø FADE OUT: Perpindahan gambar dari terang ke gelap secara perlahan.
Ø FADE IN: Perpindahan gambar dari gelap ke terang secara perlahan.
Ø FLASHBACK: Ulangan atau kilas balik peristiwa. Biasanya, gambarnya dibedakan dengan gambar tayangan sekarang.
Ø FLASHES: Penggambaran sesuatu yang belum terjadi dalam waktu cepat; contohnya: orang melamun.
Ø FREEZE: Aksi pada posisi terakhir. Harus diambil adegan yang terjadi pada tokoh utama dan dapat membuat penonton penasaran sehingga membuat penonton bersedia menunggu kelanjutannya.
Ø INSERT: Sisipan adegan pendek, tetapi penting di dalam satu scene.
Ø INTERCUT: Perpindahan dengan cepat dari satu adegan ke adegan lain yang berbeda dalam satu kesatuan cerita.
Ø INT. (INTERIOR): Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang terlihat secara keseluruhan.
Ø LS (LONG SHOT): Pengambilan gambar pada jarak jauh. Biasanya untuk gambar yang terlihat secara keseluruhan.
Ø MAIN TITLE: Judul cerita pada sinetron atau film.
Ø MONTAGE: Beberapa gambar yang menunjukkan adegan berurutan dan mengalir. Bisa juga menunjukkan beberapa lokasi yang berbeda, tetapi merupakan satu rangkaian cerita.
Ø OS (ONLY SOUND): Suara orang yang terdengar dari tempat lain; berbeda tempat dengan tokoh yang mendengarnya.
Ø PAUSE: Jeda sejenak dalam dialog, untuk memberi intonasi ataupun nada dialog.
Ø POV (POINT OF VIEW): Sudut pandang satu atau beberapa tokoh terhadap sesuatu yang memegang peranan penting untuk tokoh yang bersangkutan.
Ø SCENE: Berarti adegan atau bagian terkecil dari sebuah cerita.
Ø SLOW MOTION: Gerakan yang lebih lambat dari biasanya. Untuk menunjukkan hal yang dramatis.
Ø SFX (SOUND EFFECT): Untuk suara yang dihasilkan di luar suara manusia dan ilustrasi musik. Misalnya, suara telepon berdering, bel sekolah, dll.
Ø SPLIT SCREEN: Adegan berbeda yang muncul pada satu frame atau layar.
Ø TEASER: Adegan gebrakan di awal cerita untuk memancing rasa penasaran penonton agar terus mengikuti cerita.
Ø VO (VOICE OVER): Orang yang berbicara dalam hati. Suara yang terdengar dari pelakon namun bibir tidak bergerak.

Demikianlah penjelasan sekilas tentang skenario. Seiring waktu, tak menutup kemungkinan terjadi perubahan-perubahan format penulisan skenario. Akan tetapi, untuk saat ini format penulisan skenario kurang lebih sama seperti penjabaran di atas. Semoga bermanfaat.

Rahmat HM
Materi untuk pelatihan menulis skenario
FLP Ciputat

Penulis dan Tulisannya

Posted: 9 November 2011 in artikel islami

Apa yang anda perhatikan terlebih dahulu ketika akan membeli buku? Dari judul yang menarik, cover yang unik, atau nama penulisnya?

Hasrat orang untuk membeli sebuah buku memang melalui pertimbangan yang berbeda-beda. Ada yang dari judul, cover, penulis, endorsement, harga dan lain sebagainya. Kalau saya, biasanya yang menjadi patokan untuk membeli buku, pertama kali yang saya utamakan adalah judul buku, sinopsis, setelah itu penulisnya.

Untuk penulis yang belum saya kenal secara baik background-nya pasti akan langsung saya baca di lampiran profilnya. Dari pertimbangan judul yang menarik, sinopsis yang menggambarkan isi cukup berbobot, semua itu akan tereksekusi apakah akan jadi saya beli atau tidak karena liniernya background penulis dengan bidang yang ditulisnya.

Menurut saya, dengan langkah seperti itulah bisa mengantisipasi untuk tidak tertipu mendapatkan buku yang berkualitas. Karena saat ini banyak sekali buku yang judulnya begitu bombastis. Tapi, ternyata setelah dibaca isinya biasa-biasa saja. Sangat jauh dari dugaan sebelumnya.

Sempat beberapa minggu yang lalu, saya bersama teman di manajemen mencoba survey di sebuah toko buku di kawasan Bintaro. Dari rak buku yang berbasis motivasi dan psikologi, kami coba baca semua background penulisnya. Wau… setelah kami baca, ternyata… kurang lebih ada 40% judul buku ditulis oleh penulis yang tidak sesuai dengan background pendidikannya. Masih ada kurang lebih 5% yang tidak ada biodata penulisnya.

Memang, akhir-akhir di Indonesia ini banyak bermunculan penulis-penulis baru. Bahkan banyak pula penulis-penulis yang produktifitasnya sangat tinggi. Tapi, melihat jenis produknya sedemikian tadi, ada rasa miris melihatnya. Ternyata fenomena banyaknya muncul penulis baru, tidak serta merta membawa angin segar kemajuan dunia literasi di Indonesia. Ya, karena ternyata banyak penulis yang tidak tahu bidang apa yang seharusnya ia tulis.

Background Penulis

Berbicara terkait background penulis, sebenarnya tidak hanya pada ruang sempit dari latar belakang pendidikan penulis saja. Memang jika bicara background penulis, kebanyakan lebih mengidentikkan dengan pendidikan formal. Tetapi, sejatinya bisa lebih luas dari pada itu. Karena keahlian dalam suatu bidang seseorang bisa juga diperoleh dari pendidikan nonformal, seperti; ikut kursus, berorganisasi, privat, atau pengalaman kerja.

Background penulis harus diperhatikan oleh seorang penulis ketika akan menulis. Karena kualitas bobot dari tulisannya apakah bisa dipertanggung jawabkan atau tidak, itu berasal dari sejauh mana penulis menggelutinya. Jika tidak intens menggelutinya dan dengan mudahnya ditulis begitu saja, tentu akan sangat membahayakan pembacanya. Jika ada kesalahan dalam konsep, bisa menyesatkan pembacanya. Mungkin jika di tataran bidang sosial, scient hanya berakibat fatal dalam kehidupan. Tapi, jika pada tataran agama bisa-bisa menjerumuskan kekafiran, bahkan dalam bidang kesehatan bisa jadi menjerumuskan ke kematian.

Background penulis memang tidak bisa disepelekan. Untuk itu, penulis harus senantiasa cermat memilih bidang yang sesuai dengan keahliannya. Begitupun juga penerbit, harus senantiasa jeli dalam mengeksekusi naskah untuk diterbitkan. Karena bahan bacaan, pasti yang membacanya bukanlah orang yang bodoh. Orang pintar adalah harapan kemajuan negara kita. Jika orang pintar sampai tersesat dari bacaannya, siapa lagi yang akan membawa orang bodoh untuk menjadi pintar?!

Mari kita renungkan bersama, tidak peduli siapa anda!

Jika anda seorang penulis, maka tulislah sesuai dengan bidang anda! Jika anda seorang pembaca, bacalah buku yang ditulis oleh penulis yang sesuai background-nya, dan jika anda adalah penerbit, seleksilah naskah dengan bijaksana!

————–

*R.W. Dodo. Direktur Literary Agency Mata Pena Writer, sebuah perusahaan agent penulis yang siap menyediakan naskah untuk berbagai penerbit. Saat ini telah memiliki direktori penulis sebanyak 50 orang, dengan spesifikasi keahlian menulis buku di bidang yang berbeda-beda. Hingga kini, sudah mengeluarkan sekitar 200 lebih judul buku yang telah diterbitkan oleh berbagai penerbit.